Senin, 17 Maret 2014

THE BIG EXAMINATION AGENDA 2014



RANGKAIAN AGENDA KEGIATAN UJIAN AKHIR SANAH
PONDOK PESANTREN QOTRUN NADA
TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

NO
TANGGAL
KEGIATAN
PELAKSANA
1.
20 Januari– 31 Maret 2014
PendalamanMateri MA
Kelas VI/THSIII
2.
20 Januari – 12 April 2014
PendalamanMateri MTs
Kelas III
3.
24-25 Januari 2014
Ujian Try Out MTs (Tingkat Provinsi)
Kelas III
4.
17-19 Februari 2014
Ujian Try Out MA
Kelas VI/THSIII
5.
24-27 Februari 2014
Ujian Try Out MTs (Tingkat Kota)
Kelas III
6.
03-08 Maret 2014
Ujian Praktek, Lisan & Periksa Buku MA
Kelas VI/THSIII
7.
10-19 Maret 2014
UAMBN, UM & UP MA
Kelas VI/THSIII
8.
15 Maret 2014
Pemeriksaan Buku MTs
Kelas III
9.
17-22 Maret 2014
Ujian Praktek & Lisan MTs
Kelas III
10.
20 Maret 2014
Fathul Kutub MA
Kelas VI/THSIII
11.
24- 28 Maret 2014
Remedial UAMBN, UM & UP MA
Kelas VI/THSIII
12.
24 Maret-02 April 2014
UAMBN & Ujian Madrasah  MTs
Kelas III 
13.
03-05 April 2014
Remedial UAMBN & UM MTs
Kelas III 
14.
07 – 19 April 2014
KBM Persiapan UN MTs
Kelas III 
15.
31 Maret-12 April 2014
Pendampingan Belajar Mandiri MA
Kelas VI/THSIII
16.
14-17 April 2014
Ujian Nasional MA
Kelas VI/THSIII
17.
05-08 Mei 2014
Ujian Nasional MTs
Kelas III
18.
17 Mei 2014
Pemeriksaan Kitab & Buku
Kelas I s.d.Ths II
19.
19-24 Mei 2014
Ujian Lisan & Praktek
Kelas I s.d.Ths II
20.
26 Mei-10 Juni 2014
Ujian Tulis Semester II
Kelas I s.d.Ths II
21.
11-12 Juni 2014
Remedial
Kelas I s.d.Ths II
22.
14 Juni 2014
Pembagian Raport
Seluruh Kelas
*Jadwal sewaktu-waktu dapat berubah dan akan dinformasikan lebih lanjut

CINTAI DAHULU, MUDAH KEMUDIAN...

Ada seorang santri dari Indonesia menuntut ilmu di Rubath Tarim pada zaman Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri. Setelah di sana 4 tahun, santri itu minta pulang. Dia pamit minta izin pulang kepada Habib Abdullah.
Santri          : Habib, saya mau pulang saja.
Habib          : Lho, kenapa?” tanya beliau.
Santri          : Bebal otak saya ini. Untuk menghafalkan setengah mati. Tidak pantas saya menuntut ilmu.
                      Saya minta izin mau pulang.
Habib          : Jangan dulu. Sabar.
Santri          : Sudah Bib. Saya sudah empat tahun bersabar. Sudah tidak kuat. Lebih   baik saya menikah saja.
Habib          : Sebentar, saya mau mengetes dulu bagaimana kemampuanmu menuntut ilmu.”            
Santri          : Sudah bib. Saya menghafalkan setengah mati. Tidak hafal-hafal.
 
  Habib Abdullah kemudian masuk ke kamar, mengambil surat-surat untuk santri itu. Pada masa itu surat-surat dari Indonesia (Untuk para santri) ketika sampai di Tarim tidak langsung diberikan. Surat tersebut tidak akan diberikan kecuali setelah santri itu menuntut ilmu selama 15 tahun. Habib Abdullah menyerahkan seluruh surat itu kepadanya, kecuali satu surat. Setelah diterima, dibacalah surat-surat itu sampai selesai. Satu surat yang tersisa kemudian diserahkan. “Ini surat siapa?” Tanya Habib. “Owh, itu surat ibu saya.” “Bacalah!” Santri itu menerima surat dengan perasaan senang, kemudian dibacanya sampai selesai.
  Saat membaca, kadang dia tersenyum sendiri, sesekali diam merenung, dan sesekali dia sedih. “Sudah kamu baca?” tanya beliau lagi. “Sudah.” “Berapa kali?” “Satu kali.” “Tutup surat itu! Apa kata ibumu?” “Ibu saya berkata saya disuruh nyantri yang bener. Bapak sudah membeli mobil baru. Adik saya sudah diterima bekerja di sini, dan lain- lain.” Isi surat yang panjang itu dia berhasil menceritakannya dengan lancar dan lengkap. Tidak ada yang terlewatkan.
  “Baca satu kali kok hafal? Katanya bebal gak hafal-hafal. Sekarang sekali baca kok langsung hafal dan bisa menyampaikan.” Kata Habib dengan pandangan serius. Santri itu bingung tidak bisa menjawab. Dia menganggap selama ini dirinya adalah seorang yang bodoh dan tidak punya harapan. Sudah berusaha sekuat tenaga mempelajari ilmu agama, dia merasa gagal. Tetapi membaca surat ibunya satu kali saja, dia langsung paham dan hafal.
  Habib Abdullah akhirnya menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Beliau mengatakan, “Sebab ketika engkau membaca surat dari ibumu itu dengan perasaan gembira. Ini ibumu. Coba jika engkau membaca syariat Nabi Muhammad dengan bahagia dan bangga, ini adalah Nabiku, niscaya engkau sekali baca pasti langsung hafal.
  ” Subhanallah.... Banyak saudara-saudara kita (atau malah kita sendiri) yang tanpa sadar mengalami yang dirasakan santri dalam kisah di atas. Jawabannya adalah rasa cinta. Kita tidak menyertakan perasaan itu saat membaca dan mempelajari sesuatu. Sehingga kita merasa diri kita bodoh dan tidak punya harapan sukses. Banyak orang merasa bodoh dalam pelajaran, tetapi puluhan lagu-lagu cinta hafal di luar kepala. Padahal tidak mengatur waktu khusus untuk menghapalkannya.
Bagi para santri, jangan mudah menyerah ketika memahami keterbatasan otak kita ketika menyerap pelajaran. Mungkin kita belum berhasil menanamkan Virus Cinta di hati kita. Marilah kita berdoa, bermunajat kepada Allah. Semoga Allah selalu memberikan futuh dalam hati dan pikiran kita serta kemudahan dan kelancaran dalam menuntut ilmu. Amin